Denpasar

Dua PSK Pesanan Teroris Sempat Ditahan

Kompas.com - 19/03/2012, 14:22 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Dua PSK pesanan pelaku perampokan yang diduga jaringan teroris sempat ditahan oleh petugas kepolisian. Namun, kedua perempuan berinisial She dan Man itu dilepas setelah diinterogasi oleh petugas kepolisian. Pembebasan dilakukan beberapa saat setelah terjadi baku tembak di Bungalow 99, Jalan Danau Poso Nomor 58, Sanur, Denpasar, yang menewaskan empat buron perampokan, Minggu (18/3/2012) malam.

"Sesuai pesanan dari Bungalow, kami mengirimkan empat orang. Yang dua sudah lebih dulu masuk, sedangkan dua lainnya tertahan di luar Bungalow," kata Baraki, induk semang empat PSK yang ditampung di sebuah rumah di Gang Buntu, Jalan Danau Poso, Sanur, Senin (19/3/2012).

Pria asal Kabupaten Buleleng, Bali, itu menuturkan, beberapa anak buahnya sudah pernah melayani kawanan perampok tersebut. "Sebenarnya mereka sering menginap di Bungalow itu, dan sepertinya memang sejak lama diincar oleh polisi," kata Baraki.

Ia merasa beruntung tak satu pun anak buahnya cedera dalam baku tembak antara anggota Densus 88 Anti-Teror dan kawanan penjahat yang diduga teroris itu. Dua anak buah Baraki pun meminta izin pulang kampung karena masih trauma menyaksikan peristiwa tersebut.

Sementara itu, Made Tama selaku penjaga Bungalow 99 sebelumnya mendapat informasi akan ada penyergapan pelaku kejahatan di tempatnya. "Sehari sebelumnya saya diberi tahu bahwa beberapa orang yang menginap di Bungalow adalah kawanan teroris dari Aceh. Tapi, saya diminta tidak cerita kepada siapa pun," katanya.

Pada saat baku tembak itu terjadi, Made Tama sedang pergi ke warung untuk makan malam. "Teman saya yang disuruh pesan perempuan di sebelah," katanya sambil menunjuk tempat penampungan PSK di Gang Buntu.

Lokasi penampungan PSK di Gang Buntu berjarak sekitar 150 meter dari Bungalow 99. Oleh sebab itu, Bungalow tersebut sering kali digunakan oleh pria hidung belang untuk melampiaskan nafsu birahinya kepada PSK. "Begitu selesai makan, saya sudah tidak diperbolehkan masuk. Beberapa saat kemudian datang mobil ambulans dan ratusan petugas kepolisian," kata Made Tama.

Baku tembak yang terjadi pada pukul 21.30 Wita sempat membuat warga dan pedagang makanan di sekitar Bungalow 99 panik. "Awalnya saya mengira ada pesta kembang api. Tiba-tiba datang mobil ambulans dan polisi. Tiga orang dimasukkan ke dalam mobil ambulans yang langsung meninggalkan lokasi ini," kata Sekar, pengelola Celebes Laundry yang berlokasi di seberang Bungalow.

Wayan Arebu sempat melihat seseorang yang dipapah masuk ambulans. "Saya tidak tahu, apakah dia teroris atau petugas. Yang jelas, di dalam ambulans, pria itu mendapat perawatan dan lengannya ditusuk jarum infus," kata pria yang tinggal di Jalan Danau Poso itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau